SeniLukis; Disain Komunikasi Visual Sekolah Menengah Kejuruan di wilayah Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur yang telah mendapatkan lisesnsi dari BNSP pertama kali pada tanggal 25 Nopember 2015 dan pada tanggal 10 Oktober 2018 sudah mendapatkan sertifkat dan SK Relisensi/ Perpanjangan Lisensi dari BNSP dengan no ID BNSP-LSP-279-ID serta
Diwilayah Indonesia timur banyak ditemukan aneka bentuk lukisan yang catnya terbuat dari bahan hematit merah. Lukisan-lukisan itu mereka gambar pada dinding-dinding gua tempat tinggal mereka. Prasasti yang berangka tahun pertama dijumpai di wilayah Jawa bagian tengah, disebut prasasti Canggal yang berangka tahun 652 Saka atau 732 M
Pertama pertunjukan wayang Jawa berkaitan erat dengan wayang Bali yang disebut wayang parwa, wayang yang mengambil cerita dari epos MahÄbhÄrata dan RÄmÄyaĆa. Gambar pada daun lontar ini pada masa pemerintahan Prabu Bratana di Majapahit disalin dalam media kertas Jawa yang lebih longgar, sehingga menjadi wayang beber yang dapat
cash. Sebuah kesenian Islami dapat tercipta dengan adanya pencampuran budaya Islam dengan kepercayaan lain yang masih dalam lingkup ajaran agama Islam. Salah satu kesenian Islamis yang ada di daerah nusantara khususnya di tanah Jawa ialah pertunjukkan Wayang. Kesenian ini dalam cerita pertunjukanya setiap tokoh-tokoh pewayangan merupakan bentuk refleksi sikap manusia, watak dan karakter manusia secara umum. Kesenian ini pada masa awal lahir masih dalam bentuk yang menyerupai relief pada sebuah candi baik di Prambanan maupun di candi merupakan sebuah kesenian yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa. Wayang dalam masyarakat jawa tidak hanya sebagai sarana hiburan namun oleh para Sunan juga merupakan media dakwah Islam di tanah Jawa. Perjalanan wayang dari waktu ke waktu berubah baik dari masa awal Hindu-Budha sampai pada masa kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Pajang dan Mataram II. Perubahan-perubahan inilah yang membuat kesenian ini sangat diminati oleh masyarakat Jawa, baik dari segi cerita, filosofi maupun bentuk-bentuk unik yang ada pada kesenian wayang itu sendiri. Untuk melengkapi pembahasan wayang periode modern, maka pembahasan kali ini akan lebih membahas mengenai pertunjukkan wayang periode Kesenian WayangMelihat dari segi istilah kata wayang terdapat beberapa pengertian di antaranya pertama, âwayangâ yang berasal dari kata wayangan atau bayang-bayang yang merupakan gambaran wujud tokoh. Kedua, mengenai wayang dalam kamus besar bahasa Indonesia wayang adalah sebuah pertunjukan yang dimainkan oleh seorang dalang. Pengertian secara luas menurut Jajang Suryana, wayang dapat mengandung gambar, boneka tiruan manusia yang terbuat dari kulit atau bahan lain yang berbentuk pipih berwujud dua dimensi. Melihat pengertian-pengertian wayang diatas dapat disimpulkan bahwa wayang merupakan bentuk tiruan manusia dari bahan kulit, kayu dan lain sebagainya yang merupakan bentuk inplementasi dari berbagai watak kesenian ini muncul dikarenakan nenek moyang percaya bahwa roh leluhur yang telah mati merupakan perlindung dalam kehidupan. Kurang lebih sekitaran tahun 1500 SM nenek moyang kita banyak melakukan upacara-upacara penyembahan nenek moyang. Melihat pada titik tolak inilah orang berusaha mendatangkan roh leluhur ke dalam kehiduan keseharian mereka baik di rumah maupun dihalaman mereka. Pengamplikasian mereka dengan mendatangkan roh leluhur dengan sebutan âhyangâ atau âdahyangâ . Para âhyangâ ini berbentuk patung dan gambar bayang-bayang yang kemudian disebut denga istilah usul wayang ini memiliki dua versi yang pertama dari kelompok Jawa, mereka menyebutkan bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Sarjana-sarjana Barat yang berpendapat yaitu Hazeau Brandes menurutnya wayang adalah asli dari Jawa seperti halnya gamelan, batik, ilmu berlayar, astronomi dan cara penanaman padi sawah basah. Pernyataan ini dubuktikan olehnya karena wayang sangat erat kaitanya dengan kehidupan sosial, kultural dan religius orang kedua dari Kats, ia berpendapat bahwa wayang jelas berasal dari Jawa, ini dikarenakan istilah-istilah yang digunakan didalam pertunjukan wayang. Kedua, ia berpendapat bahwa wayang merupakan suatu kebudayaan yang sudah tua, sebelum abad XI wayang di Jawa telah menjadi milik penduduk asliorang Jawa. Ketiga, pertunjukan wayang sangat erat hubunganya dengan penyembahan kepada nenek moyang. Pendapat mereka mempunyai alasan yang kuat yaitu bahwa seni wayang erat kaitanya dengan keadaan sosio-kultural religi bangsa Indonesia khususnya orang Jawa. Ini terlihat dengan adanya tokoh dari wayang yaitu punokawan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong, serta nama dan istlah teknis pewayangan semuanya berasal dri bahasa Jawa Kuno.Versi kedua menyebutkan bahwa wayang berasal dari India, yang dibawa oleh agama Hindu ke Indonesia. Penganut keyakinan ini antara lain Krom, pertama, ia berpendapat bahwa wayang merupakan hasil dari kreasi Hindu yang berada di Jawa. Kedua, wayang menggunakan cerita-cerita dari India. Ketiga, tidak adanya istilah-istilah yang berasal dari India tidak membuktikan apa-apa. Keempat, wayang hanya berada di aerah Jawa dan Bali saja, yang merupakan daerah yang mendapatkan pengaruh agama Hindu terbesar. Pendapat kedua dikemukakan oleh Rassers, ia berpendapat bahwa melihat dari rumah suci laki-laki ini mungkin datang dari India, ia juga memercayai pendapat Krom bahwa wayang merupakan hasil kreasi dari Hindu-Jawa. Pendapat selanjutnya dikemukakan oleh Ras bahwa panggung wayng kulit yang berada di Jawa dan cerita-ceritanya pun sama yakni mengambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata. mereka merupakan sarjana Inggris yang pernah menjajah India. Versi kedua ini cenderung lemah dikarenakan sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan sudah sepakat bahwa wayang berasal dari pulau Jawa dan bukan besal dari negara lain India.Perkembangan Wayang di NusantaraMengenai asal-usul wayang ini masih belum dapat di buktikan, namun banyak sarjana-sarjana Indonesia masih berpatokan pada pendapat dari Hazeau. Wayang berasal dari cara keagamaan untuk pemujaan roh nenek moyang. Inilah dasar atas penyusunan periodisasi perkembangan wayang yang berada di Nusantara. Berdasarkan karangan Mulyono berikut ini periodisasi perkembangan wayang di Wayang Periode Pra-sejarahMulyono mengikuti pendapat Hazeau bahwa pertunjukan wayang mula-mula berfungsi magis-social-religius, yaitu sebagai alat upacara pemujaan pada arwah nenek moyang yang diwujudkan dalam bentuk bayangan. Kedatangan mereka dikarenakan diminta untuk memberikan restu dan pertolongan. Lakon wayang di zaman ini banyak menceritakan kepahlawanan dan petualangan nenek moyang. Pertunjukan wayang pada masa ini biasanya diadakan pada malam hari di rumah, halaman, atau tempat yang dianggap keramat. Perantara penyampaianya menggunakan bahasa Jawa Wayang Periode Mataram IZaman ini pertujukan wayang tidak hanya sebagai magis-regius namun juga sebagai alat pendidikan dan komunikasi. Cerita-cerita pertunjukan wayang diambil dari kisah-kisah âRamayanaâ dan âMahabarathaâ yang telah ada akulturasi pada sifat dan mitos kuno tradisional. Cerita-cerita pewayangan telah mulai di tulis pada masa ini pada sekitara tahun 903 M. Sedangkan pertunjukan wyang sendiri telah ada pada tahun 907 ini dibuktikan dengan di temuknya sebuah prasasti Balitung yang tertulisââŠsi Geligi buat Hyang macerita Bhima ya kumaraâŠâ Geligi mengadakan pertunjukan wayang dengan mengambil cerita Bhima muda.Pertunjukkan Wayang Periode Jawa TimurPertunjukan pewayangan pada masa ini telah mencapai bentuk yang sempurna, sehingga dapat mengharukan hati bagi para penikmatnya. Bentuk wayang pada masa ini beragam ada yang terbuat dari daun rontal yang dibuat pada tahn 939 M yang menggambarkan para dewa, ksatria, dan pandhawa. Para tokoh punakawan dapat dilihat pada relief di candi Panatarn yang berangka tahun 1197 dan pada Gatutkaca Sraya 1188. Wayang kayon terdapat di candi Jago 1343. Wayang dengan bahan lain yang menggunakan kertas ialah wayang beber pertunjukan wayang ini mengunakan slendro yang terdapat pada tahun wayang masa ini biasanya dilakukan pada malam hari yang bertempat di rumah atau di tempat keramat, yang dipimpin oleh orang sakti, kepala keluarga, atau terkadang seorang raja. Bahasa yang digunakan dalam pertnjukan adalah bahasa Jawa uno dengan kata-kata Sangsekerta. Masa Majapahit II sekitar tahun 1440 mulai terdapat kitab-kitab pewayangan seperti Tantu Panggelaran, Sudamala, Dewaruci, Kkorawa Crama, yang menggunakan bahasa Jawa Wayang Periode Kedatangan IslamMasa ini pertunjukan wayang berfungsi sebagai sarana dakwah, pendidikan dan komnikasi, sumber sastra dan budaya, dan juga sebagai sarana hiburan bagi masyarkat sekitar. Cerita atau lakon pertunjukan wayang biasanya menggunakan Babad, yakni pencampuran antara cerita Ramayana atau Mahabarata versi Nusantara dengan cerita-cerita Arab/Islam. Pertunjukan wayang pada periode Islam juga mengalami perkembangan di masa kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa dia antaranyaPertunjukkan Wayang Masa Kerajaan DemakMasa kerajaan Demak ini dimulai setelah runtuhnya kerajaan Majapahit yang membuat barang-barang yang berada di kerajaan Majapahit ini di pindahkan ke Demak begitu juga dengan kesenian wayang. Raja-raja kerajaan Demak dengan dibantu oleh para wali melihat bahwa orang-orang Jawa itu gemar akan kesenian daerah yang salah satunya adalah wayang. Mereka ingin menjadikan wayang sengai media dakwah Islam dengan menyempurnakan dan mengubah baik dari segi bentuk, wujud, cara pertunjukan agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam, antara lain Tahun 1518-1521 wayang dinuat pipih menjadi dua dimensi dan digambar miring sehingga tidak menyerupai relief dibuat dari kulit kerbau yang ditatah warna dasar warna putih dan pakaian berwarna muka wayang dibuat miring dengan tangan yang masih menhyatu dengan badan dan diberi gapit untuk menancapkan kayu serta diberi lubang untuk 1521 wayang disempurnakan lagi dengan di tambah jumlahnya sehungga dapat dimainkan selama semalam suntuk. Tambahan wayang tersebut adalah wayang Ricikan dan Peralatan wayang seperti Kelir, Blencong, Kothak, Keprak dan Wayang Masa Kerajaan PajangKerajaan ini merupakan penerus dari kearajaan Demak dalam bidang kesenian khusunya wayang. Kerajaan ini melakukan pembaharuan pada kesenian wayang dengan membuat berbagai bentuk wayang baru di antaranyaWayang Kidang KencanaMerupakan sebuah kesenian wayang yang berbeda dari segi bentuknya yang lebih kecil daripada wayang biasanya. Pembuatan wayang ini digagas oleh raja Jaka Tinggir bersama para ahli kesenian pada sekitaran tahun 1556 GedogPembuatan wayang ini dipelopori oleh Sunan Giri pada sekitaran tahun 1563 M dengan menggunakan gamelan Krucil/Wayang Golek PurwaWayang yang pertunjukanya dilakukan pada siang hari, yang dilakukan oleh Sunan Kudus sekitar tahun 1584 M. Pertunjukanya hanya memakai âgawangâ Mataram IslamKerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama Sutawijaya yang mempunyai julukan Panembahan Senapati Ing Ngalaga 1586-1601 M. Ia menyatakan dalam kesenian wayang tidak menciptakan sesuatu yang baru namun hanya menambahkan tokoh wayang diantaranya, binatang-binatang hutan, tatahan wayang yang disempurnakan dengan rambut wayang yang ditatah gempuran, dan wayang gedog ditambah dengan tahun 1601-1613 kerajaan Mataram dipimpin oleh Mas Jolang yang mempunyai gelar Pangeran Seda Ing Krapyak juga melakukan pembaharuan diantaranyaMembuat wayang baru dengan babon wayang Kidang Kncana dan wanda wayang-wayang mulai diberi gapit yang senjata diantaranya panah, keris dan 1613-1645 adalah masa keemasan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung Hnyokrokusuma. Ia merupakan raja yang ahli filsafat dan ahli pada kesenian. Ia juga melakukan pembaharuan pada wayang diantaranya, membuat bentuk wayang lebih sempurn dengan membedakan bentuk mata. Misalnya ada mata kedongdongan, mata liyepan serta membuat sastra yang terkenal sampai sekarang yaitu sastragending, serta dibuat wayang Buta Rambutgeni dan buta-buta yang Wayang Periode KlasikWayang PurwaWayang purwa disebut juga wayang kulit karena terbuat dari kulit lembu. Sunan Kalijaga yang menciptakan pertama kali wayang dari kulit lembu. Wayang ini dimainkan oleh seorang dalang yang menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok niyaga dan tembang yang dinyanyikan PurwaDalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak blencong, sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan yang jatuh ke kelir. Penonton harus berpengetahuan tentang tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar supaya dapat memahami cerita wayang lakon. Secara umum, cerita dari wayang ini mengambil naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tidak dibatasi hanya dengan standar tersebut. Dalang juga bisa memainkan lakon carangan gubahan. Dalam sejarahnya, penyaduran sumber cerita dari Rmayana dan Mahabharata ke dalam bahasa Jawa Kuno dilakukan pada masa pemerintahan Raja wayang purwa ini pada mulanya didasarkan pada bentuk relief candi, namun mengalami perubahan hingga sekarang yang disesuaikan dengan pribadi masyarakat Indonesia Jawa. Menurut Sunarto, wayang purwa dibedakan berdasarkan ukuran besar/tingginya, yaituWayang KaperWayang Kulit KaperWayang ini adalah wayang yang ukurannya paling kecil, namun ada wayang yang berukuran besar dibanding yang lainnya yaitu wayang Bima atau Raksasa dan wayang-wayang lainnya disesuaikan. Pada umumnya, wayang ini diperuntukan bagi anak-anak yang memiliki bakat dalam pewayangan pedalangan.R. M. Sajid, sebagaimana dikutip Sunarti, menjelaskan, âDiberi nama wayang kaper karena saat di-sabet-kan dimainkan dalam pentas pada kelir tabir, tidak jelas jenis tokoh yang dimainkan, karena kecilnya bentuk wayang dan hanya nampak benda-benda kecil seperti kaper-kaper kupu-kupu kecil yang berkeliaran sekitar di lampu.âWayang Kidang Kencanawayang kidang kencanaWayang kidang kencanan merupakan wayang yang ukurannya lebih besar dibandingkan wayang kaper. Wayang jenis ini juga sering disebut wayang kencana yang berarti sedang dan maksud pembuatan wayang ini agar saat digunakan dalam pentas tidak terlalu Pedalanganwayang pedalanganWayang jenis ini berbeda dengan dua jenis sebelumnya, karena memiliki ukuran yang besar. Wayang inilah yang sering digunkan dalam masyarakat. Berikut beberapa contoh ukuran wayang pedalangan pada wayang kulit purwa gaya Yogyakarta,Wayang Bima dengan tinggi 70,7 cm dan lebar 30,2Wayang Arjuna dengan tinggi 44,5 cm dan lebar 17,5Wayang Sembadra dengan tinggi 29,4 cm dan lebar 14Wayang Batara Kala jenis raksasa dengan tinggi 83 cm dan lebar 42,5Wayang AgengWayang Ageng merupakan wayang kulit dengan jenis ukuran terbesar dari jenis wayang lainnya. Jika dibandingkan dengan wayang-wayang pedalangan, wayang ageng lebih tinggi satu atau satu setengah lemahan bagian yang menghubungkan jari-jari kaki belakang dengan kaki muka. wayang ini tidak memenuhi syarat-syarat kepraktisan untuk keperluan pagelaran wayang karena tidak sesuai dengan kekuatan dalang memainkan wayang dengan baik selama pertunjukan semalam suntuk. Selain itu, ada beberapa adegan yang memberikan kesan seolah-olah ruang pentas menjadi terlalu sempit karena ukuran BeberWayang ini dinamakan beber karena berupa lembaran-lembaran beberan yang terbuat dari kain atau kulit lembu yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang, baik Ramayana dan Mahabharata. Tiap beberan merupakan satu adegan cerita. Jika sudah dimainkan, wayang dapat wayang beberDalam sejarah, wayang ini muncul dan berkembang di Jawa pada masa praâIslam. Konon, para wali, diantaranya Sunan Kalijaga, memodifikasi wayang beber ini menjadi wayang kulit dengan bentuk-bentuk yang bersifat ornamentik. Hal ini dilakukan karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup maupun patung. Selain itu, wayang ini diberi tambahan tokoh-tokoh yang tidak ada pada wayang babon wayang dengan tokoh asli India, seperti Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Sajid dalam bukunya Bawana Wayang menguraikan tentang wayang beber sebagai berikut, âWayang beber itu bukan wayang yang dipergunakan untuk mbarang ngamen yang kemudian dipergunakan di jalan-jalan. Kata beber dalam hal ini berarti direntangkan atau digelar Jawa dijembreng. Setiap kali diceritakan, gambar wayang itu direntangkan agar diketahui oleh penonton bagaimana bentuk lukisan dari cerita tersebutâ.Wayang Golekwayang golekWayang ini kebanyakan berpakaian jubah baju panjang tanpa digeraikan secara bebas dan terbuat dari kayu yang bentuknya bulat seperti lazimnya boneka. Kebanyakan orang menyebutnya dengan wayang tengul. Sumber ceritanya diambil dari sejarah, misalnya cerita Untung Surapati, Batavia, Sultan Agung, Trunajaya, dan lain-lain. Wayang ini tidak mengggunakan kelir seperti pada wayang Filsafat dalam WayangWayang memiliki unsur estetika, etika, maupun falsafahnya. Unsur filsafah ini mengandung nilai-nilai hakiki yang di dalamnya terdapat makna yang luas. Nilai falsafah merupakan isi dan kekuatan utama pertunjukan karena wayang bukan lagi sekadar tontonan menalinkan juga mengandung tuntunan, bahkan orang Jawa mengatakan âwewayangan ngauripâ, bayangan hidup manusia dari lahir hingga Hazim Amir, wayang dan seni pedalangan inidapat disebut teater total. Setiap lakon wayang digelar dalam pentas total, utamanya ketotalan kualitas yang dinyatakan dalam bentuk lambang-lambang, sebagai berikutRuangan kosong tempat pentas wayang melambangkan alam semesta sebelum Tuhan menggelar atau layar menggambarkan angkasa. Kelir dapat diartikan pula sebagai jagad raya dunia di mana semua kehidupan berada di dalamnya. Kelir digunakan sebagai penyekat antara dalang dan pisang atau gebog sebagai atau lampu sebagai matahari, di muka kelir terlihat terang yang mengartikan sebagai siang dan dibelakangnya gelap yang melambangkan melambangkan manusia dan makhluk penghuni duniaGamelan atau musik melambangkan keharmonisan hidupGunungan disebut juga kayon berasal dari bahasa Arab khayyu yang berarti hidup, melambangkan bentuk kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya dunia. Di dalamnya terdapat berbagai macam makhluk antara lainTanam tuwuh pepohonan yang diartikan sebagai pohon kalpataru yang bermakna pohon hidup, sumber kehidupan, dan sumber binatang dan berbagai macam unggas merupakan gambaran dari berbagai macam tingkat kehidupan di gerbang yang diapit dua raksasa melambangkan pintu masuk ke dalam kebahagiaan abadi dan untuk memasukinya harus melalui kedua penjaga raksasa sebagai lambang nafsu yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, berperan sebagai pamong bagi para ksatria. Menurut seorang tokoh budayawan Riyono memberkan makna sendiri terhadap punakawan yang terdiri atas kelompok pertama di pihak kebenaran yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, sedangkan kelompok yang berlawanan terdiri dari Tejomoyo dan pihak kebenaran dengan tokoh Semar secara etimologi penjelmaan dewa yang bernama Bathara Maya dengan bersama saudaranya Bathara Manik dan Bathara Hantaga. Mereka bertiga putera sang Hyang Tunggal yang terjadi dari keajaiban halnya menurut Riptoko yang menyatakan bahwa keempat tokoh tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ramayana dan Mahabarata. Mereka merupakan hasil kreasi dari Wali Sanget Tinelon untuk memeragakan serta mengabdikan fungsi watak, tugas konsepsional Walisanga dan para mubaligh Islam. Nama-nama mereka berasal dari bahasa dari Ismar yaitu paku, berfungsi sebagai pengokohan yang goyah. Ibarat agama Islam yang didakwahkan para Walisanga di seluruh kerajaan Majapahit, yang pasa waktu itu sedang dalam pergolakan dengan berakhirnya didirikan kerajaan Demak oleh Raden Pateh. Hal itu sesuai dengan hadis Al-islamuismaruddumnya yang artinya Islam adalah pengokoh paku pengokoh keselamatan GarengNala Gareng dari Naala Qoriin yang berarti memperoleh banyak teman, dan tugas konsepsional para Walisanga sebagai juru dakwah dai ialah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya kawan untuk kembali ke jalan Tuhan dengan sikap arif dan harapan yang dari Fatruk. Kata tersebut merupakan kata pangkal kalimat pendek dari sebuah wejangan tasawuf tinggi yang berbunyi Fat-ruk kulla maa siwallahi yang artinya tinggalkan semua apaun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak pribadi para wali dan mubaligh pada waktu dari Baghaa yang berari berontak, yaitu terhadap kebathilan atau kemungkaran suatu tindakan anti kesalahan dalam versi lain bersal dari kata baqaâ Arab yang berarti kekal, langgeng artinya semua makhluk natinya di akhirat hidup PUSTAKAAizid, Rizem. Atlas Tokoh-Tokoh Wayang. YogyakartaDiva Press. Hazim. Nilai-Nilai Etis dalam Wayang. Jakarta Pustaka Sinar Harapan. Wayang Indonesia. Jakarta 1999JurnalWoro Zulaela, âPeranan Wyang Kulit Dalam Pengembangan Budaya Islamâ, Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah IKIP Veteran SemarangSimilar Posts
Lukisan wayang di Jawa Timur pertama kali memakai media??apa media yg digunakan dlm lukisan wayang pertama kali di jawa timur lukisan wayang di jawa timur pertama kali menggunakan media lukisan wayang dijawa timur pertama kali menggunakan media?Lukisan wayang di Jawa Timur pertama kali menggunakan media apa..??? bayi kucing ia untuk pakai semen apa media yg digunakan dlm lukisan wayang pertama kali di jawa timur kalau gk salah sih kainmaaf ya jika salah lukisan wayang di jawa timur pertama kali menggunakan media kulit? iya mungkin soalnya jaman dahulu bukanya banyak yg pake media kulit lukisan wayang dijawa timur pertama kali menggunakan media? memakai media kulit .kalo gak salah Lukisan wayang di Jawa Timur pertama kali menggunakan media apa..??? Daun tal bila tak salah. Semoga berguna.
- Wayang merupakan salah satu bentuk kesenian budaya yang ada di Indonesia. Dilansir dari laman resmi kemendikbud, negara Indonesia setidaknya memiliki 18 jenis wayang yang beraneka ragam. Kedelapan belas jenis wayang tersebut diantaranya, Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak Lombok, dan Wayang Beber. Wayang sendiri merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan, begitu yang dikutip dari laman kemendikbud. Cerita-cerita yang dipilih pun bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana yang mengandung filsafat serta kebudayaan dari Hindu dan India. Meskipun demikian, penerapannya di Indonesia sendiri telah diserap dan disesuaikan dengan kebudayaan di Indonesia. Sekalipun Indonesia memiliki berbagai jenis wayang, ada 4 wayang yang dianggap popular di Indonesia. Keempat wayang tersebut diantaranya sebagai berikut. Wayang BeberDari berbagai jenis wayang di Indonesia, wayang Beber diketahui sebagai wayang tertua di Indonesia. Menurut informasi yang dikutip dari laman wayang jenis ini pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1223 M tepatnya pada zaman kerajaan Jenggala. Pada masa tersebut, wayang Jenggala dikenal dengan bentuk gambar yang ada di atas daun siwalan atau lontar. Penamaan wayang Beber ini sendiri berasal dari cara memainkannya. Pertunjukan wayang ini dilakukan dengan membeberkan atau membentangkan layar atau kertas yang berupa gambar. Wayang ini dimainkan dengan cara menguraikan cerita lakon melalui gambar yang tertera pada kertas atau layar tersebut. Pada awalnya, wayang Beber menceritakan berbagai kisah dari Mahabarata dan Ramayana. Namun seiring perkembangan zaman, wayang ini mulai menceritakan kisah-kisah sesuai dengan masanya mulai dari kisah-kisah raja di Jawa, kisah-kisah mengenai dakwah Islam, hingga kondisi masyarakat sehari-hari seperti menanggapi dan mengkritisi kondisi masyarakat saat ini dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, pembangunan dan juga sosial budaya. Wayang Purwa Sama seperti Wayang Beber yang dianggap popular, Wayang kulit jenis ini, juga dikatakan sebagai wayang paling tersohor di Indonesia. Menurut Pandam Guritno 1988 dalam karya Wayang yang dikutip dari laman Kebudayaan Indonesia dan Pancasila menganalisis bahwa ketenaran Wayang Purwa tidak terlepas dari kegemaran dan dukungan masyarakat Jawa yang gemar menggelar pertunjukan dari wayang kulit jenis ini. Sementara itu, wayang ini pertama kali dikenal di Indonesia pada abad ke-11 tepatnya pada masa pemerintahan raja Airlangga. Pada masa tersebut, dikisahkan sang raja mempunyai hasrat membuat wayang purwa karena ia mempunyai minat dan senang pada cerita dan riwayat para nenek moyangnya, tercantum dalam serat Pustakaraja Purwa. Raja kemudian melihat Candi Penataran di Blitar dan melihat arca para dewa dan gambar yang diukir sepanjang tembok batu sekeliling candii yang menceritakan tentang Rama. Ukiran candi inilah yang pada akhirnya memberi inspirasi kepada raja untuk membuat Wayang Purwa. Wayang ini berbentuk pipih dan terbuat dari kulit kerbau atau kambing. Lengan dan kaki dari wayang jenis ini juga dapat digerakkan. Sementara kisah-kisah yang dibawakan seputar cerita Ramayana dan Mahabarata. Wayang kulit Purwa sendiri terdiri dari beberapa gaya atau gagrak seperti gagrak Kasunanan, Mangkunegara, Ngayogjokarto, Banyumasan,Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya. Wayang GolekSelain wayang yang dibuat dengan media kulit, terdapat pula wayang yang menggunakan media kayu atau berbentuk tiga dimensi. Wayang tersebut disebut dengan wayang golek. Jika wayang Beber dan wayang purwa lebih banyak tersebar di daerah Jawa bagian Timur dan juga Tengah, maka wayang golek lebih banyak tersebar di kawasan Jawa bagian Barat. Wayang jenis ini diperkirakan telah muncul di Indonesia pada abad ke-17 sebagai bentuk pengembangan dari wayang kulit. Dalam pertunjukan Wayang Golek ini sama seperti pertunjukan wayang lainnya, lakon dan cerita di mainkan oleh seorang dalang. Yang membedakan adalah bahasa pada dialog yang di bawakan adalah bahasa sunda. Pakem dan jalan cerita wayang Golek juga sama dengan wayang kulit, contohnya pada cerita Ramayana dan Mahabarata. Namun yang membedakan adalah pada tokoh punakawan, penamaan dan bentuk dari punakawan memiliki versi tersendiri yaitu dalam versi sunda. Seiring dengan berkembangnya jaman, wayang golek tidak hanya menceritakan tentang kisah Ramayana dan Mahabarata namun juga menceritakan tentang kisah-kisah islami dan hikmah kehidupan sehari-hari. Selain itu pada masa pemerintahan kerajaan Mataram, wayang golek ini justru pernah menjadi media untuk penyebaran agama Islam. Wayang OrangWayang yang cukup popular di Indonesia yang terakhir adalah wayang Orang. Wayang ini merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Kesenian wayang jenis ini pertama kali muncul pada abad ke-18 di Solo oleh KGPAA Mangkunegoro I. Pada wayang Jenis ini, lakon wayang dimainkan langsung oleh orang yang berdandan seperti penokohan wayang. Kemunculan wayang Orang terinspirasi dari seni drama yang berkembang di Eropa. Keinginan Mangkunegoro I inilah yang pada akhirnya mendasari terwujudkan wayang Orang ini. Keinginannya semakin terwujud ketika di tahun 1899, Paku Buwono X meresmikan Taman Sriwedari sebagai taman hiburan untuk umum, dan pada saat itu ada pementasan pertunjukan wayang orang yang hingga kini tetap bertahan. Sementara cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabrata dan Ramayana yang mengandung pesan moral yang sudah disesuaikan dengan kebudayaan setempat. Baca juga Di Balik Lakon Aji Narantaka dalam Pagelaran Wayang Jokowi Di Balik Unggahan Gambar Wayang di Akun Media Sosial Jokowi - Sosial Budaya Kontributor Syarifah AiniPenulis Syarifah AiniEditor Yantina Debora
lukisan wayang di jawa timur pertama kali menggunakan media